Ja’far Shodiq Hibatullah, mahasiswa Program Studi Teknologi Informasi, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), meraih Terbaik III pada cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an kategori Penulis Putra dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI. Kompetisi yang berlangsung pada 11–20 September 2026 di Semarang, Jawa Tengah, ini diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia bersama Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an.
Pencapaian tersebut merupakan hasil dari proses seleksi berjenjang yang dijalani Ja’far selama lebih dari satu tahun, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, dan provinsi hingga tingkat nasional. Setelah terpilih mewakili Jawa Tengah, ia mengikuti pemusatan latihan tingkat provinsi sejak Maret 2026, yang semakin intensif pada Agustus hingga September menjelang kompetisi nasional.
Pada cabang yang diikutinya, peserta ditantang menyusun karya tulis dalam waktu terbatas tanpa akses internet. Babak penyisihan diikuti oleh perwakilan dari 37 provinsi, dengan ketentuan penulisan karya sepanjang 15 halaman dalam waktu sembilan jam. Enam peserta terbaik melanjutkan ke semifinal dan kembali menyusun karya sepanjang 15 halaman dalam waktu delapan jam. Tiga peserta dengan karya terbaik kemudian mempresentasikan gagasannya pada babak final selama lima menit, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama dewan hakim selama 15 menit. Dalam kompetisi tersebut, Ja’far mengangkat isu perdamaian lintas iman dan keberlanjutan lingkungan melalui dua karya. Pada tahap penyisihan, ia menulis karya berjudul “Di Tengah Konflik Dunia Bisakah Indonesia Tetap Menjadi Rumah Damai Lintas Iman?” Sementara itu, pada tahap semifinal dan final, ia mengembangkan gagasan berjudul “GREEN-HOLE Berbasis Nano-Material dan Internet of Things untuk Pengurai Limbah Organik Cepat dan Solusi Air Berkelanjutan”.
Gagasan GREEN-HOLE mengintegrasikan nilai-nilai Al-Qur’an dengan pendekatan teknologi untuk menjawab persoalan lingkungan. Pemanfaatan nano-material dan Internet of Things (IoT) diusulkan sebagai pendekatan untuk mempercepat penguraian limbah organik sekaligus mendukung pengelolaan air berkelanjutan. Melalui gagasan ini, isu lingkungan ditempatkan tidak hanya sebagai persoalan teknis, tetapi juga sebagai bagian dari tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan alam.
Ja’far menyampaikan bahwa rangkaian seleksi hingga tingkat nasional memberinya pengalaman berharga, terutama dalam mengembangkan gagasan, bekerja di bawah batasan waktu, dan mempertanggungjawabkan hasil pemikiran secara langsung di hadapan dewan hakim. Ia berharap pencapaian tersebut dapat menjadi motivasi untuk terus mengembangkan gagasan yang mempertemukan nilai-nilai Al-Qur’an, ilmu pengetahuan, dan penerapan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat. (RAS)