Mahasiswa Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama mahasiswa lintas bidang dan siswa sekolah luar biasa berhasil meraih prestasi internasional melalui inovasi kecerdasan artifisial (AI) yang ditujukan untuk mendukung komunikasi masyarakat Tuli. Tim KawanIsyarat yang beranggotakan Pradana Yahya Abdillah, mahasiswa Teknologi Informasi UGM angkatan 2023; Maulana Isqi Habibah, mahasiswa Ilmu Keperawatan UGM angkatan 2023; dan Muhammad Ghozy Wira Elmada dari SLB-B YAAT Klaten, meraih Cactus Prize dalam ajang The Gemma 4 Good Challenge 2026 yang diselenggarakan oleh Google DeepMind melalui Kaggle.
The Gemma 4 Good Challenge 2026 merupakan kompetisi internasional yang berlangsung selama enam minggu pada April–Mei 2026. Kompetisi ini mengajak peserta dari berbagai negara memanfaatkan model AI Gemma untuk mengembangkan solusi teknologi yang memberikan dampak positif bagi masyarakat. Dalam penyelenggaraannya, kompetisi menerima lebih dari 1.600 submission dengan total hadiah mencapai US$200.000.
Melalui tim KawanIsyarat, Pradana dan rekan-rekannya menghadirkan aplikasi Android yang dirancang untuk membantu komunikasi dua arah antara masyarakat Tuli pengguna Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) dan masyarakat dengar. Aplikasi ini dikembangkan dengan pendekatan offline-first dan on-device AI, sehingga pemrosesan utama dapat dilakukan langsung pada perangkat tanpa bergantung pada koneksi internet.
KawanIsyarat memanfaatkan Gemma 4 E2B yang dijalankan secara lokal menggunakan Cactus. Kamera smartphone digunakan untuk menangkap gerakan bahasa isyarat yang kemudian diproses menjadi kalimat Bahasa Indonesia. Di sisi lain, ucapan dari pengguna dengar dapat diubah menjadi teks untuk mendukung komunikasi dua arah. Aplikasi ini juga dilengkapi fitur yang mendukung pembelajaran bahasa isyarat.
Disampaikan oleh Pradana, salah satu tantangan teknis dalam pengembangan KawanIsyarat adalah menjalankan beberapa model AI pada smartphone dengan keterbatasan memori. Tim mengatasinya melalui penerapan memory-aware model routing, termasuk mekanisme load/unload model Whisper secara dinamis. Pendekatan tersebut memungkinkan penggunaan memori perangkat disesuaikan dengan kebutuhan pemrosesan. “Kami juga melakukan optimasi latency agar aplikasi dapat berjalan secara interaktif dan mendekati waktu nyata,” tambahnya.
Pendekatan teknis tersebut turut mendapat apresiasi dari tim juri Google. Dalam publikasi resmi Google mengenai para pemenang, juri secara khusus menyoroti penerapan memory-aware model routing pada KawanIsyarat serta optimasi latency yang dilakukan untuk mendukung performa real-time pada perangkat bergerak. Atas inovasi tersebut, KawanIsyarat memperoleh Cactus Prize sekaligus hadiah sebesar US$10.000.
Capaian KawanIsyarat menunjukkan pemanfaatan teknologi AI tidak hanya untuk pengembangan kemampuan komputasi, tetapi juga untuk menjawab kebutuhan komunikasi dan aksesibilitas. Kolaborasi Pradana dari bidang teknologi informasi, Maulana dari bidang keperawatan, dan Ghozy sebagai pengguna bahasa isyarat menjadi bagian penting dalam menghadirkan solusi yang berangkat dari kebutuhan pengguna. Melalui prestasi ini, mahasiswa DTETI UGM turut menunjukkan kemampuan dalam mengembangkan teknologi on-device AI yang dapat diterapkan pada perangkat dengan sumber daya terbatas. KawanIsyarat sekaligus menjadi contoh kolaborasi lintas disiplin dalam menghasilkan inovasi teknologi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat. (RAS)

Informasi tambahan:
KawanIsyarat dapat dipelajari lebih lanjut melalui website resmi KawanIsyarat dan video demo yang menampilkan cara kerja aplikasi dalam menerjemahkan BISINDO secara langsung. Dokumentasi pengembangan dan kode sumbernya juga tersedia melalui GitHub, sehingga masyarakat dan pengembang dapat mengenal lebih jauh teknologi yang digunakan dalam proyek ini.