Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI), Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan Studium Generale bertajuk “From Tech to Impact: Turning Ideas into Innovation and Impact” pada Jumat (21/8), di Ruang Kuliah E6 Lantai 3 DTETI FT UGM. Kegiatan menghadirkan Fajar Sidik Abdullah Kelana, alumni Teknik Mesin UGM angkatan 2012, Founder dan CTO Banoo Indonesia, serta bagian dari Tim Staf Khusus Wakil Presiden Republik Indonesia.
Kuliah diawali dengan sambutan dan pembukaan oleh Ahmad Ataka Awwalur Rizqi, S.T., Ph.D., selaku dosen pengampu. Dalam sambutannya, Ataka menyampaikan bahwa kehadiran Fajar Sidik Abdullah Kelana menjadi kesempatan yang sangat baik bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari sosok yang memiliki pengalaman lintas bidang, mulai dari dunia keteknikan, riset, kewirausahaan, pendidikan, hingga pelayanan publik. Ataka berharap kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh mahasiswa dengan mengikuti kuliah secara aktif dan menyerap berbagai pengetahuan, pengalaman, serta pembelajaran yang dibagikan Fajar. Tidak hanya mengenai teknologi dan inovasi, tetapi juga tentang bagaimana mengembangkan gagasan, melihat persoalan nyata, membangun kolaborasi, dan membawa ilmu yang diperoleh agar dapat memberikan dampak yang lebih luas.

Selanjutnya sesi materi oleh narasumber, dalam sesi tersebut, Fajar membagikan perjalanan dari dunia akademik, riset, kewirausahaan, hingga pemerintahan. Ia mengawali cerita dengan pengalamannya sebagai mahasiswa Teknik Mesin UGM pada 2012. Bersama senior dan rekan-rekannya, ia turut menginisiasi Arjuna Electric Vehicle Team, sebuah riset mobil listrik di UGM. Dari pengalaman tersebut, Fajar menekankan bahwa seseorang tidak harus menunggu siap untuk memulai. Proses membangun, menguji, gagal, memperbaiki, dan belajar justru menjadi bagian penting dalam membentuk kesiapan. Fajar kemudian mengajak mahasiswa mengubah cara pandang dari sekadar memecahkan persoalan teknis menjadi memahami persoalan nyata yang layak untuk diselesaikan. Menurutnya, teknologi seperti AI, IoT, robotics, blockchain, cloud, dan computer vision hanyalah alat. Pertanyaan yang lebih penting adalah “Whose problem are you solving?” atau siapa yang sebenarnya akan dibantu oleh teknologi tersebut.
Dari Invention Menuju Impact
Salah satu poin utama yang disampaikan Fajar adalah perbedaan antara invention, innovation, dan impact. Invention terjadi ketika sesuatu yang baru berhasil diciptakan, sedangkan innovation muncul ketika hasil tersebut benar-benar digunakan. Selanjutnya, impact tercipta ketika penggunaan tersebut menghasilkan perubahan yang dapat diukur, seperti peningkatan produktivitas, penurunan biaya, perluasan akses, peningkatan keselamatan, maupun manfaat lingkungan. Untuk mendorong proses tersebut, Fajar memperkenalkan pola pengembangan inovasi melalui problem, hypothesis, prototype, user-oriented approach, feedback, dan iterate. Ia menekankan bahwa prototipe bukan sekadar versi kecil dari produk akhir, tetapi sarana untuk belajar dan mendapatkan umpan balik sebelum solusi dikembangkan lebih jauh.

Kolaborasi dan Human Skills
Fajar juga menekankan bahwa inovasi bukanlah pekerjaan seorang diri. Menciptakan dampak membutuhkan kolaborasi antara peneliti, engineer, designer, pelaku bisnis, pengguna, pemerintah, investor, dan komunitas. Kemampuan untuk bekerja dengan orang yang memiliki pengetahuan dan perspektif berbeda menjadi salah satu kunci dalam membangun ekosistem inovasi. Selain kemampuan teknis, mahasiswa juga perlu mengembangkan communication, curiosity, collaboration, resilience, dan empathy. Menurut Fajar, “Your technical skills determine what you can build. Your human skills determine how far it can go.”
Ia juga membagikan lima hal yang dapat dilakukan mahasiswa sebelum lulus: membangun sesuatu, bergabung dalam proyek riset, menyelesaikan masalah nyata, bekerja dengan orang di luar bidang studi, serta berani mencoba sesuatu yang ambisius dan belajar dari kegagalan. Sebagai kerangka praktis, Fajar memperkenalkan P.I.V.O.T., yaitu Problem, Investigate, Validate, Organize, dan Take It to Scale. Kerangka ini dapat diterapkan dalam proyek perkuliahan, penelitian, kompetisi, maupun startup, mulai dari memahami masalah hingga mengukur dan memperluas dampak solusi secara bertanggung jawab.

Menutup sesi, Fajar mengajak mahasiswa DTETI untuk memikirkan tiga pertanyaan sederhana: masalah apa yang mereka pedulikan, apa yang dapat mereka bangun untuk menyelesaikannya, dan siapa yang akan mendapatkan manfaat jika mereka berhasil. Ia menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat, inovasi merupakan perjalanan, dan impact adalah tujuan akhirnya. Melalui Studium Generale ini, DTETI FT UGM terus mendorong mahasiswa untuk mengembangkan tidak hanya kompetensi teknis, tetapi juga pola pikir inovatif, kemampuan berkolaborasi, dan keberanian untuk menerapkan ilmu dalam menyelesaikan persoalan nyata. Semangat “Build Technology. Create Innovation. Deliver Impact.” menjadi pesan utama agar mahasiswa mampu membawa pengetahuan dan teknologi dari ruang kelas dan laboratorium menuju manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. (EFJ)