Inovasi kendaraan listrik terus dikembangkan oleh para peneliti di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Salah satu terobosan terbaru hadir melalui pengembangan kendaraan listrik bernama eKarsa, yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan mobilitas di lingkungan rumah sakit, khususnya di kawasan Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM.
Pengembangan eKarsa diprakarsai oleh Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) FT UGM sebagai respons atas kebutuhan nyata di lapangan, terutama untuk mendukung mobilitas pasien, tenaga kesehatan, dan pengunjung dari area parkir menuju gedung utama rumah sakit.
Kepala DTETI FT UGM, Prof. Ir. Hanung Adi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., SMIEEE., menjelaskan bahwa eKarsa dikembangkan dalam waktu relatif singkat, yakni sekitar tiga bulan sejak Januari hingga Maret 2026. “Permintaan dari RSA cukup spesifik dan menantang, namun berkat pengalaman tim serta kolaborasi dengan mitra industri, kendaraan ini berhasil diwujudkan sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Secara teknis, eKarsa dirancang sebagai kendaraan listrik kawasan terbatas dengan kapasitas hingga delapan penumpang. Kendaraan ini menggunakan baterai lithium ferro phosphate (LFP) dan sistem pengendali motor yang dikembangkan secara mandiri oleh tim UGM. Waktu pengisian daya yang relatif singkat, sekitar tiga jam, menjadi salah satu keunggulan yang mendukung operasional harian di lingkungan rumah sakit.
Dari sisi desain, eKarsa mengedepankan aspek repairability dan durability dengan memanfaatkan komponen otomotif lokal serta komponen komersial yang mudah diperoleh, seperti ban dan suspensi. Sistem elektronik juga dirancang secara lokal, didukung penggunaan baterai LFP produksi dalam negeri serta karoseri yang dikembangkan bersama industri di wilayah DIY dan Solo, sehingga memudahkan perawatan sekaligus memperkuat rantai pasok domestik.
Selain itu, aspek keamanan dan kenyamanan juga menjadi perhatian utama dalam desain eKarsa. Kendaraan ini dirancang tanpa sudut tajam, menggunakan komponen standar untuk memudahkan perawatan, serta mengutamakan ergonomi dan kemudahan penggunaan.
Ketua Tim Mobil Listrik eKarsa, Ir. Eka Firmansyah, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., bersama tim lintas disiplin yang melibatkan DTETI, DTMI, serta fakultas lain di UGM, mengembangkan kendaraan ini dengan menggandeng mitra industri PT Inamas Sintesis Teknologi. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam mendorong proses hilirisasi riset dari kampus ke dunia industri.
Dekan FT UGM, Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., menyampaikan bahwa eKarsa merupakan kelanjutan dari pengembangan kendaraan listrik sebelumnya di FT UGM, seperti GATe (Gadjah Mada Airport Transporter). Ia menekankan bahwa inovasi ini menunjukkan kemampuan peneliti UGM dalam melakukan kustomisasi teknologi sesuai kebutuhan spesifik pengguna.
Nama eKarsa sendiri memiliki makna filosofis yang mendalam. Selain merupakan akronim dari “kendaraan elektrik RSA”, kata “karsa” dalam filosofi Jawa merujuk pada kehendak luhur yang lahir dari perpaduan cipta dan rasa, yang kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata. Hal ini mencerminkan semangat DTETI UGM untuk tidak hanya berhenti pada riset, tetapi juga menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat.
Peluncuran eKarsa yang mulai dioperasikan di RSA UGM pada Kamis (2/4) lalu menjadi langkah nyata dalam mendorong hilirisasi teknologi. Ke depan, diharapkan pengembangan ini dapat berlanjut ke tahap produksi yang lebih luas, dengan dukungan industri, sehingga mampu menciptakan ekosistem kendaraan listrik nasional yang berkelanjutan. (RAS)
