Delegasi Universitas Gadjah Mada terus memperkuat agenda internasionalisasi pendidikan tinggi melalui penjajakan kerja sama strategis dengan Shibaura Institute of Technology di Tokyo, Jepang pada Selasa (14/4) lalu. SIT dikenal sebagai institusi pendidikan tinggi unggulan yang memiliki pendekatan inovatif berbasis global engineering education dan berfokus pada pengembangan talenta teknologi berdaya saing internasional.
Delegasi UGM dipimpin oleh Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng. selaku Dekan Fakultas Teknik, bersama jajaran pimpinan fakultas dan departemen, yaitu Prof. Ir. Ali Awaludin, S.T., M.Eng., Ph.D., IPU, ACPE., Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama; Prof. Ir. Hanung Adi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., SMIEEE., Ketua Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi; beserta dosen DTETI, Ir. Azkario Rizky Pratama, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM. dan dosen dari Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Dr. Yani Rahmawati, S.T., M.T.
Sementara itu, pihak SIT diwakili oleh berbagai laboratorium unggulan dan unit internasional, yaitu Mobile Multimedia Communication Lab yang dipimpin Dr. Phan Xuan Tan, Affective Technologies Lab oleh Dr. Tipporn Laohakangvalvit, Stochastic Systems and Control Lab oleh Dr. Ahmet Cetinkaya, Advanced Electronics and Sensor Devices Lab oleh Dr. Aaryashree, Bioscience Lab oleh Dr. Azham Zulkarnain, serta Office of International Services yang diwakili oleh Ms. Wen Chieh Chung.
Salah satu fokus utama diskusi adalah pembukaan akses bagi mahasiswa UGM terhadap berbagai program mobilitas internasional yang ditawarkan SIT. Program pertama adalah Course-Taking Sandwich Program atau Exchange Program, yaitu program pertukaran akademik berbasis perkuliahan yang diperuntukkan bagi mahasiswa sarjana tingkat akhir dan mahasiswa magister.
Melalui program ini, mahasiswa dapat mengikuti perkuliahan di bidang engineering dan teknologi selama satu hingga dua semester dengan bahasa pengantar Inggris. Program ini juga menawarkan pembebasan biaya kuliah melalui skema kerja sama antarinstitusi, sehingga mahasiswa tetap dapat melanjutkan studi tanpa menghambat masa studi di universitas asal.
Selain itu, SIT menawarkan Research Exchange Program berbasis laboratorium yang memungkinkan mahasiswa UGM mengikuti kegiatan riset selama satu bulan hingga satu tahun. Dalam skema ini, mahasiswa akan ditempatkan langsung di laboratorium penelitian di bawah supervisi profesor SIT, dengan keterlibatan aktif dalam proyek riset mandiri maupun kolaboratif.
Program ini memberikan pengalaman mendalam dalam budaya riset Jepang, kerja tim internasional, serta pengembangan inovasi dan publikasi ilmiah. Bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan pengalaman global berbasis pemecahan masalah, SIT juga menyediakan Global Project Based Learning Program, yang menempatkan mahasiswa dalam tim internasional untuk menyelesaikan tantangan dunia nyata melalui pendekatan multidisipliner.
Interaksi dengan berbagai laboratorium SIT juga membuka peluang kolaborasi riset lebih luas bagi UGM di bidang komunikasi multimedia, human-centered AI, affective computing, sistem kontrol, sensor canggih, biosains, dan teknologi kesehatan.
Kolaborasi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan joint research, publikasi internasional, serta inovasi teknologi yang menjawab kebutuhan global. Sebagai tindak lanjut, kedua institusi menjajaki pembentukan kerja sama formal guna mendukung implementasi berkelanjutan program mobilitas mahasiswa dan kolaborasi akademik. Melalui langkah ini, UGM semakin menegaskan komitmennya dalam meningkatkan eksposur internasional mahasiswa, memperkuat pendidikan berbasis riset dan inovasi, serta membangun jejaring akademik global yang strategis. (ARP/RAS)