Delegasi Universitas Gadjah Mada melanjutkan agenda internasionalisasinya melalui penjajakan kerja sama strategis dengan Tokyo University of Agriculture and Technology di Tokyo, Jepang. TUAT merupakan salah satu universitas nasional terkemuka di Jepang yang memiliki kekuatan di bidang teknik, pertanian, dan teknologi terapan, serta menempati peringkat ke-19 dalam QS Asia University Rankings 2025. Kunjungan dilakukan pada Senin (13/4) lalu.
Delegasi UGM dipimpin oleh Prof. Ir. Selo, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng. selaku Dekan Fakultas Teknik, bersama jajaran pimpinan fakultas dan departemen, yaitu Prof. Ir. Ali Awaludin, S.T., M.Eng., Ph.D., IPU, ACPE., Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama; Prof. Ir. Hanung Adi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., SMIEEE., Ketua Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi; beserta dosen DTETI, Ir. Azkario Rizky Pratama, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM. dan dosen dari Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan, Dr. Yani Rahmawati, S.T., M.T.
Sementara itu, pihak TUAT diwakili oleh Dr. Masafumi Hirano selaku Dean of Faculty of Engineering; Dr. Toshihisa Tanaka sebagai Chair of the International Strategy, Faculty of Engineering; Dr. Yosuke Tanaka selaku Chair of Department of Biomedical Engineering; Dr. Kenta Umebayashi sebagai Chair of Department of Electrical Engineering and Computer Science; Prof. Wuled Lenggoro; Assoc. Prof. Satria Zulkarnaen Bisri; serta Prof. Siaw Onwona-Agyeman dari Organization for the Advancement of Education and Global Learning.
Salah satu agenda utama dalam pertemuan ini adalah pembahasan peluang partisipasi mahasiswa Fakultas Teknik UGM dalam IMS Exchange Program, yaitu program pertukaran akademik berdurasi empat hingga lima bulan yang dirancang untuk memberikan pengalaman belajar dan riset internasional secara intensif.
Melalui program ini, mahasiswa berkesempatan mengikuti mata kuliah spesialis sesuai bidang studi, kelas bahasa Jepang, seminar akademik, kolaborasi dengan mahasiswa TUAT, hingga proyek penelitian bersama. Pada tahap akhir program, mahasiswa akan menjalani riset intensif selama dua bulan yang ditutup dengan presentasi akademik sebagai evaluasi akhir.
Program IMS dirancang untuk memberikan kombinasi antara pembelajaran teoritis, pengalaman laboratorium, serta penguatan jejaring internasional, sehingga diharapkan mampu meningkatkan daya saing global mahasiswa UGM. Selain mobilitas mahasiswa, UGM dan TUAT juga membahas peluang kolaborasi lebih luas di bidang teknik elektro, ilmu komputer, biomedical engineering, applied physics, serta chemical engineering. Kerja sama ini membuka peluang untuk penelitian bersama, publikasi ilmiah internasional, serta pengembangan inovasi berbasis teknologi.
Sebagai tindak lanjut, kedua institusi sepakat untuk menginisiasi penyusunan Memorandum of Agreement (MoA) sebagai dasar formal implementasi program pertukaran mahasiswa dan kolaborasi akademik.
Kerja sama ini diharapkan dapat memperluas jejaring global UGM, meningkatkan kualitas pendidikan berbasis riset, serta mempersiapkan lulusan dengan kompetensi internasional yang lebih kuat. Melalui langkah ini, UGM semakin menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang terhubung secara global, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi internasional. (ARP/RAS)
