Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI), Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan pelatihan energi terbarukan berbasis komunitas bersama Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak pada Selasa (21/6) lalu. Kegiatan ini merupakan bagian dari program hibah KONEKSI bertajuk reNEWable Energy for Remote Island Sustainability and Economic LivElihoodS (NEWER-ISLES) yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan teknologi energi bersih yang inklusif.
Pelatihan dilaksanakan di Ruang Sidang Laboratorium Teknik Tenaga Listrik DTETI FT UGM dan dirancang untuk meningkatkan kapasitas masyarakat serta pemangku kepentingan, khususnya kelompok perempuan dan difabel, dalam memahami serta memanfaatkan teknologi energi terbarukan berbasis komunitas.
Melalui kolaborasi dengan SAPDA, program ini secara khusus menekankan pentingnya akses setara terhadap teknologi dan pendidikan energi bersih bagi kelompok rentan, sehingga transisi menuju pembangunan berkelanjutan dapat berjalan lebih inklusif.
Materi pelatihan meliputi pengenalan dasar energi terbarukan, penggunaan teknologi pembuat es berbasis energi surya, penyampaian materi melalui media visual dan video yang aksesibel, serta praktik langsung pengoperasian alat. Pendekatan ini memungkinkan peserta memperoleh pemahaman teoritis sekaligus pengalaman praktis yang aplikatif.

Program NEWER-ISLES sendiri bertujuan untuk mendukung keberlanjutan ekonomi dan sosial di wilayah kepulauan terpencil melalui solusi energi terbarukan yang dapat diterapkan secara lokal. Dalam konteks ini, keterlibatan organisasi advokasi seperti SAPDA menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa inovasi teknologi juga menjangkau perempuan, penyandang disabilitas, dan kelompok yang selama ini kerap menghadapi hambatan akses.
Kegiatan ini mencerminkan komitmen UGM dalam mengintegrasikan inovasi teknologi, keberlanjutan lingkungan, serta keadilan sosial melalui pengabdian masyarakat berbasis riset. Melalui pelatihan ini, DTETI UGM tidak hanya mendorong adopsi energi terbarukan, tetapi juga memperkuat pemberdayaan kelompok perempuan dan difabel sebagai bagian penting dalam pembangunan berkelanjutan yang inklusif. (RAS)