Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) menyelenggarakan Pelepasan Wisuda Program Pascasarjana Periode IV Tahun Akademik 2025/2026 di Auditorium Fakultas Teknik UGM, Selasa (21/7). Sebanyak 92 lulusan mengikuti prosesi pelepasan yang terdiri atas 85 lulusan Program Magister dan 7 lulusan Program Doktor.
Pada periode ini, para lulusan mencatatkan capaian akademik yang membanggakan. Rata-rata masa studi lulusan magister adalah 2 tahun 2 bulan dengan IPK 3,75, sedangkan lulusan doktor menyelesaikan studi rata-rata dalam 5 tahun 4 bulan dengan IPK 3,90. Sebanyak 41 lulusan juga berhasil meraih predikat Pujian (cumlaude). Dari keseluruhan wisudawan, DTETI turut meluluskan 23 mahasiswa pada jenjang pascasarjana, yang terdiri atas 9 lulusan Program Studi Magister Teknik Elektro, 12 lulusan Program Studi Magister Teknologi Informasi, serta 2 lulusan Program Studi Doktor Teknik Elektro. Capaian ini menunjukkan kontribusi DTETI dalam menghasilkan sumber daya manusia unggul yang siap menghadapi tantangan perkembangan teknologi dan industri di tingkat global.

Dalam rangkaian acara pelepasan, Fakultas Teknik menghadirkan alumni Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) angkatan 2000, Josua M. Sinambela, M.Eng., sebagai narasumber. Josua yang saat ini menjabat sebagai Founder & CEO RootBrain.Com membawakan materi bertajuk “Dari Kampus ke Dunia Nyata: Menjadi Insinyur yang Adaptif, Berintegritas, dan Berdampak di Era Kecerdasan Artifisial.”
Melalui materi tersebut, Josua mengajak para wisudawan untuk memaknai kelulusan sebagai awal dari pengabdian dan amanah untuk memberikan dampak bagi masyarakat. Ia menekankan pentingnya menjadi pembelajar sepanjang hayat, menjaga nilai-nilai integritas, serta mempersiapkan diri menghadapi perubahan yang dibawa oleh perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
“Teknologi bergerak semakin cepat, tetapi integritas tidak punya versi pembaruan,” ungkap Josua.
Menurutnya, kemajuan AI akan mengubah berbagai aspek kehidupan dan dunia kerja. Namun, kemampuan berpikir kritis, etika, empati, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab tetap menjadi kompetensi utama yang harus dimiliki seorang engineer.
“AI membantu manusia, bukan menjadi penentu keputusan. Karena itu, kemampuan berpikir kritis, etika, dan integritas harus menjadi keunggulan yang tetap dimiliki seorang engineer,” tambahnya.
Selain itu, Josua juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kompetensi global dan nilai-nilai lokal. Sejalan dengan semangat
Locally Rooted, Globally Respected, ia mendorong para lulusan untuk menjadi insan yang adaptif, memiliki reputasi yang baik, serta mampu berkontribusi dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Kehadiran Josua dalam pelepasan wisuda ini menjadi bukti kontribusi alumni DTETI dalam mendukung pengembangan pendidikan dan memberikan inspirasi bagi generasi penerus. Melalui pengalaman dan kiprahnya di industri teknologi, Josua menunjukkan bahwa lulusan DTETI mampu berakar pada nilai-nilai lokal sekaligus memperoleh pengakuan di tingkat global. Dengan semangat Locally Rooted, Globally Respected, DTETI terus memperkuat sinergi dengan alumni dalam membangun ekosistem pendidikan, inovasi, dan pengembangan talenta yang unggul serta berintegritas. (EFJ)
