Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) menggelar diskusi bersama Advisory Board (AB) pada Rabu (1/7) malam di Remboelan Plaza Senayan, Jakarta. Pertemuan ini menjadi forum strategis untuk memperoleh masukan dari para praktisi industri dan alumni dalam rangka penyempurnaan kurikulum serta peningkatan kualitas lulusan DTETI yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja. Diskusi dipimpin oleh Ketua Departemen DTETI FT UGM, Prof. Ir. Hanung Adi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., SMIEEE., dan dihadiri jajaran pengurus departemen. Sementara itu, Advisory Board yang hadir terdiri atas Neneng Gunadi (Chief Executive Officer, Grab Indonesia), Fazil Alfitri (President Director of PT Maxpower Indonesia), Ahmad Yuniarto (Perwakilan Unsur Alumni), Romi Satria Wahono (Founder dan CEO PT. Brainmatics, IlmuKomputer.Com dan Intelligent Systems Research Center), dan Lingga Wardhana (Ketua KATETIGAMA, CEO PT. Floatway Systems dan LSP Telekomunikasi Digital Indonesia).
Agenda diawali dengan paparan Ketua Departemen DTETI FT UGM, Prof. Hanung Adi Nugroho, mengenai implementasi kurikulum baru Program Sarjana yang akan diterapkan pada Tahun Akademik 2026/2027, penyempurnaan kurikulum Program Magister, serta persiapan akreditasi Program Doktor. Selanjutnya, Sekretaris Departemen memaparkan profil program studi dan arah pengembangan kurikulum, termasuk penerapan individual project, capstone project, serta program magang industri berdurasi hingga enam bulan untuk memperkuat pengalaman belajar mahasiswa.

Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai masukan dari Advisory Board. Salah satu poin utama yang mengemuka adalah pentingnya penguatan karakter dan soft skills, seperti kemampuan komunikasi, berpikir kritis, kolaborasi, dan keberanian menyampaikan pendapat. Advisory Board juga menekankan perlunya lingkungan pembelajaran yang mendorong mahasiswa keluar dari zona nyaman serta pengembangan mata kuliah yang mendukung life skills, public speaking, dan critical thinking. Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran turut menjadi perhatian. AI dipandang sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, namun penggunaannya harus disertai kemampuan prompting, analisis hasil, dan pemahaman etika agar tidak menggantikan proses berpikir mahasiswa.
Advisory Board juga mendukung implementasi program magang enam bulan dan capstone project berbasis industri, serta menekankan pentingnya penyusunan silabus magang yang selaras dengan kebutuhan dunia kerja. Kolaborasi dengan industri diharapkan mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih terstruktur sekaligus meningkatkan kesiapan dan daya saing lulusan. Menutup diskusi, Ketua Departemen DTETI FT UGM menyampaikan apresiasi atas berbagai masukan yang diberikan. Seluruh rekomendasi tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan implementasi kurikulum baru dan pengembangan proses pembelajaran agar DTETI terus menghasilkan lulusan yang unggul, adaptif, dan siap menghadapi perkembangan teknologi serta kebutuhan industri. (EFJ/NDW)