Mahasiswa Program Doktor Teknik Elektro, Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (DTETI) Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Wahri Sunanda, menjalani ujian tertutup promosi doktor pada Kamis (29/1) pukul 13.00 WIB, bertempat di Ruang Multifunction 1, Gedung Smart and Green Learning Center (SGLC) Lantai 3, FT UGM.
Ujian tertutup disertasi ini dipimpin oleh Prof. Ir. Hanung Adi Nugroho, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., SMIEEE. selaku Ketua Penguji, serta dihadiri Prof. Dr. Eng. Ir. F. Danang Wijaya, S.T., M.T., IPM. selaku Ketua Program Studi Doktor Teknik Elektro. Sebagai promotor adalah Prof. Ir. Sarjiya, S.T., M.T., Ph.D., IPU., Prof. Dr. Ir. Sasongko Pramono H, DEA., IPU., dan Dr. Ir. M. Isnaeni BS, M.T. Adapun tim dosen penguji meliputi Ir. Lesnanto Multa Putranto, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM., SMIEEE., Husni Rois Ali, S.T., M.Eng., Ph.D., DIC., SMIEEE., Dr.-Ing. Ir. Yohan Fajar Sidik, S.T., M.Eng., serta Dr. Ir. Suroso Isnandar, S.T., M.Sc., IPU, ASEAN Eng., QRMP, QCRO, QRGP., Direktur Manajemen Proyek & Energi Baru Terbarukan PT PLN (Persero). Kehadiran Dr. Suroso sebagai penguji dari kalangan praktisi industri di luar kampus turut memberikan perspektif profesional dan kebutuhan riil sektor ketenagalistrikan nasional, sehingga proses pengujian tidak hanya menilai kontribusi akademik, tetapi juga relevansi implementatif hasil riset terhadap dunia industri.
Dalam disertasinya yang berjudul “Optimisasi Perencanaan Pengembangan Pembangkit Menuju Net Zero Emission melalui Integrasi Energi Terbarukan dengan Mempertimbangkan Carbon Pricing dan Carbon Capture and Storage”, Wahri mengangkat isu strategis terkait transformasi sektor ketenagalistrikan di Indonesia. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya kebutuhan listrik nasional di tengah komitmen pemerintah untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, sehingga dibutuhkan perencanaan sistem energi yang rendah karbon, andal, dan efisien.
Wahri memaparkan bahwa bauran energi nasional saat ini masih didominasi pembangkit berbasis fosil yang berkontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang melimpah, seperti tenaga surya, air, panas bumi, dan biomassa, namun pemanfaatannya belum optimal. Kondisi tersebut menuntut adanya pendekatan perencanaan pembangkit yang terintegrasi dengan kebijakan dekarbonisasi. Untuk menjawab tantangan tersebut, Wahri mengembangkan model optimisasi matematis berbasis Mixed Integer Linear Programming (MILP) untuk merancang perencanaan pengembangan pembangkit listrik jangka panjang periode 2025–2050. Model ini secara simultan mempertimbangkan pengembangan energi terbarukan, penerapan kebijakan carbon pricing melalui pajak karbon dan perdagangan emisi (Emission Trading System/ETS), serta implementasi teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) pada pembangkit fosil.
Melalui simulasi enam skenario kebijakan, hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi kebijakan Carbon Tax, ETS, dan CCS memberikan dampak paling efektif dalam menekan emisi. Pada tahun 2050, emisi sektor ketenagalistrikan berpotensi ditekan hingga 68,2% lebih rendah dibandingkan skenario tanpa kebijakan, sekaligus meningkatkan porsi energi terbarukan hingga sekitar 87,1% dari total produksi listrik nasional. Penelitian ini menegaskan bahwa sinergi antara instrumen kebijakan ekonomi dan inovasi teknologi dekarbonisasi dapat menghasilkan sistem kelistrikan yang lebih berkelanjutan tanpa mengabaikan aspek keekonomian dan keandalan pasokan energi. Secara akademik maupun praktis, model yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi rujukan berbasis data bagi pemerintah, perencana energi, serta pelaku industri dalam merumuskan strategi transisi energi nasional. Melalui penelitian ini, Wahri berharap kontribusinya dapat mendukung percepatan pembangunan sistem ketenagalistrikan Indonesia yang bersih, tangguh, dan selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan. (EFJ)