
Hampir dua tahun telah berlalu sejak Gameltron Evo pertama kali diluncurkan pada November 2023. Sebagai lanjutan dari penelitian gamelan elektronik yang dimulai pada tahun 1970-an, Gameltron Evo telah banyak dimainkan dalam berbagai kesempatan pameran. Gamelan berbahan rotan yang mampu menghasilkan bunyi menyerupai gamelan asli ini merupakan penelitian tim dosen Departemen Teknik Elektro dan Teknologi Informasi, Fakultas Teknik UGM dengan penggawa Ir. Addin Suwastono, S.T., M.Eng., IPM.
Salah satu pameran Gameltron Evo adalah Yogyakarta Gamelan Festival 2025 yang dilaksanakan pada akhir Juli lalu. Pameran ini merupakan kegiatan tahunan yang kali tiga puluh sejak 1995, dan berlokasi di Taman Budaya Embung Giwangan. Dalam pameran tersebut, Gameltron Evo ditempatkan di dalam salah satu bangunan Grha Budaya. Lokasinya yang strategis, luas, dan pencahayaan baik memungkinkan gamelan ini diuji coba langsung oleh para pengunjung yang hadir.
Inovasi Gameltron Evo ini terletak pada olahan bunyi yang berfungsi memanipulasi suara menggunakan controller, sound module, dan speaker amplifier. Artinya, pukulan pada rotan, akrilik, rangka kayu, dan lain-lain yang membentuk Gameltron Evo dapat terdengar seperti menabuh instrumen gamelan asli yang notabene berbahan perunggu, kuningan, hingga besi.
Terlihat sepanjang pameran beberapa pengunjung yang melintas turut memainkan Gameltron Evo. Dalam instalasinya sendiri memang secara tertulis terdapat pesan ajakan agar gamelan elektronik ini dicoba secara bebas.

Salah satu pengunjung paling pertama yang memainkan gameltron dalam instalasi adalah seorang anak laki-laki yang datang bersama dengan ayahnya. Awalnya, ia terlihat kesulitan ketika menabuh saron—instrumen gamelan yang dimainkan dengan cara dipukul, menghasilkan nada-nada dasar dalam ansambel. Desain saron dalam Gameltron Evo terdiri atas bilah dan rangka kayu yang disusun presisi sesuai ukuran nada. Anak tersebut semula menabuh saron dengan perlahan, tetapi terlihat kebingungan karena tidak ada bunyi yang ditimbulkan. Barulah saat ia menguatkan pukulannya, terdengar bunyi dari speaker yang menyerupai pukulan pada perunggu.
Anak laki-laki yang sempat kesulitan mencoba gameltron bukan satu-satunya. Beberapa pengunjung yang mencoba juga sempat menabuh dengan pelan, tetapi tidak ada bunyi keluar. Hal ini disebabkan karena pukulan yang terlalu pelan pada kenong, baron, gong, atau lainnya. Apabila tidak dipukul dengan kuat, maka sound module pada gameltron tidak mampu mendeteksi bunyi untuk bisa dimanipulasi. Pengunjung perlu memukul dengan kuat agar sound module merekam bunyi pukulan tersebut, sehingga terdengar bunyi menyerupai alat aslinya melalui speaker.
Mulai dari anak-anak hingga dewasa, warga negara Indonesia maupun mancanegara, seluruh pengunjung YGF 2025 dapat berkesempatan mencoba Gameltron Evo selama pelaksanaan festival, tepatnya Senin-Minggu (21-27/7). “Pengalamannya menyenangkan dan ini merupakan inovasi yang bagus,” ujar salah satu pengunjung mancanegara setelah mencoba salah satu alat musik gameltron. Melalui aktivitas ini, tim Gameltron Evo bermaksud untuk mendorong interaksi langsung antara pengunjung dengan instrumen gamelan. (RAS)